Pengertian Amr, Sighat, Jenis-jenis, dan Kaidah Amr dalam USHUL FIQH

Pengertian Amr Manurut Bahasa

Pengertian Amr – Pada dasarnya Amr mengandung pengertian perintah. Lalu bagaimana sighat AMR dalam USHUL FIQH ? Jadi Amr mengandung pengertian apa ? Bagaimana kaidah Amr dan apa saja jenis-jenisnya ? Yuk langsung saja kita bahas topik Amr dalam artikel ini ๐Ÿ™‚

Pengertian Amr Manurut Bahasa

Pengertian Amr Menurut Bahasa

Pengertian Amr menurut bahasa adalah artinya adalah perintah.ย 

Pengertian Amr Menurut Istilah

Pengertian AMR menurut istilah adalah suatu lafal yang didalamnya menunjukkan tuntutan untuk mengerjakan suatu pekerjaan dari atasan kepada bawahan.

Sehingga dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa amr tidak hanya ditunjuk pada lafal yang memakai shigat amar, tetapi ditunjuk pula oleh semua bentuk kata yang didalamnya mengandung arti perintah, sebab perintah itu terkadang menggunakan kata-kata yang berarti majaz.

Meskipun demikian, point penting dari definisi amr adalah bahwa didalam kata amar terkandung unsur tuntutan untuk mengerjakan.

Sighat Amrย 

Amr merupakan lafal yang mengandung pengertian perintah. Sighat amr berbentuk sebagai berikut:

  • Berbentuk fiโ€™il amr/perintah langsung. Misalnya, firman Allah:

ูˆูŽุฃูŽู‚ููŠู…ููˆุงู’ ุงู„ุตู‘ูŽู„ุงูŽุฉูŽ ูˆูŽุขุชููˆุงู’ ุงู„ุฒู‘ูŽูƒูŽุงุฉูŽ ูˆูŽุงุฑู’ูƒูŽุนููˆุงู’ ู…ูŽุนูŽ ุงู„ุฑู‘ูŽุงูƒูุนููŠู†ูŽ -ูคูฃ

Artinya:

โ€œDan laksanakanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang yang rukuk.โ€

  • Berbentuk mudhariโ€™ yang didahului oleh lam amr. Misalnya, firman Allah:

ุซูู…ู‘ูŽ ู„ู’ูŠูŽู‚ู’ุถููˆุง ุชูŽููŽุซูŽู‡ูู…ู’ ูˆูŽู„ู’ูŠููˆูููˆุง ู†ูุฐููˆุฑูŽู‡ูู…ู’ ูˆูŽู„ู’ูŠูŽุทู‘ูŽูˆู‘ูŽูููˆุง ุจูุงู„ู’ุจูŽูŠู’ุชู ุงู„ู’ุนูŽุชููŠู‚ู -ูขูฉ

Artinya:

“Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran (yang ada di badan) mereka, menyempurnakan nazar-nazar mereka dan melakukan thawaf sekeliling rumah tua (Baitullah).”

  • Dengan menggunakan isim fiโ€™il amr, seperti:

ูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุงู’ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ุฃูŽู†ููุณูŽูƒูู…ู’ ู„ุงูŽ ูŠูŽุถูุฑู‘ููƒูู… ู…ู‘ูŽู† ุถูŽู„ู‘ูŽ ุฅูุฐูŽุง ุงู‡ู’ุชูŽุฏูŽูŠู’ุชูู…ู’ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ู‡ู ู…ูŽุฑู’ุฌูุนููƒูู…ู’ ุฌูŽู…ููŠุนุงู‹ ููŽูŠูู†ูŽุจู‘ูุฆููƒูู… ุจูู…ูŽุง ูƒูู†ุชูู…ู’ ุชูŽุนู’ู…ูŽู„ููˆู†ูŽ -ูกู ูฅ

Artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu; (karena) orang yang sesat itu tidak akan membahayakanmu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu semuaakan kembali, kemudian Dia akan Menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”

  • Dengan menggunakan isim mashdar pengganti fiโ€™il, misalnya:

ูˆูŽุฅูุฐู’ ุฃูŽุฎูŽุฐู’ู†ูŽุง ู…ููŠุซูŽุงู‚ูŽ ุจูŽู†ููŠ ุฅูุณู’ุฑูŽุงุฆููŠู„ูŽ ู„ุงูŽ ุชูŽุนู’ุจูุฏููˆู†ูŽ ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ู‡ูŽ ูˆูŽุจูุงู„ู’ูˆูŽุงู„ูุฏูŽูŠู’ู†ู ุฅูุญู’ุณูŽุงู†ุงู‹ ูˆูŽุฐููŠ ุงู„ู’ู‚ูุฑู’ุจูŽู‰ ูˆูŽุงู„ู’ูŠูŽุชูŽุงู…ูŽู‰ ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽุณูŽุงูƒููŠู†ู ูŽ -ูจูฃ-

Artinya:

“Dan (ingatlah) ketika Kami Mengambil janji dari Bani Israil, โ€œJanganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin.”

  • Dengan menggunakan kalimat berita (kabar), misalnya:

ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุทูŽู„ู‘ูŽู‚ูŽุงุชู ูŠูŽุชูŽุฑูŽุจู‘ูŽุตู’ู†ูŽ ุจูุฃูŽู†ููุณูู‡ูู†ู‘ูŽ ุซูŽู„ุงูŽุซูŽุฉูŽ ู‚ูุฑููˆูŽุกู -ูขูขูจ

Artinya:

“Dan para istri yang diceraikan (wajib) menahan diri mereka (menunggu) tiga kali qurลซโ€™.”

  • Berbentuk lafal yang searti dengan amar, misalnya:

Lafal kutiba, seperti pada surah Al-Baqarah 183;

ูŠูŽุงุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุงุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽุขู…ูŽู†ููˆุงู’ูƒูุชูุจูŽุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ูุงู„ุตู‘ููŠูŽุงู…ู -ูกูจูฃ

Artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa.”

Lafal faradla, seperti pada surah an-nisaโ€™ 24 :

ููŽุขุชููˆู‡ูู†ู‘ูŽุฃูุฌููˆุฑูŽู‡ูู†ู‘ูŽููŽุฑููŠุถูŽุฉู‹ -ูขูค

Artinya:

“Berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna) sebagai suatu kewajiban.”

Pengaruh qarinah dalam amar

Jadi sejauh mana pangaruh qarinah dalam amar, para pakar memiliki pendapat yang berbeda, berikut penjelasannya :

Ibn Hazm dan kelompok al-Dhahiry

Ibn Hazm dan kelompok al-Dhahiry berpendapat bahwa semua amar menunjukkan arti wajib, sekalipun diikuti qarinah, kecuali ditemukan adanya nash lain atau ijmaโ€™ yang dapat mengalihkan pengertian amar dari wajib.

Jumhur Ulama

Jumhur ulama berpendapat bahwa kata amar yang tanpa ada qarinah tetap menunjukkan wajib. Jika ada qarinah ini maka dianggap sudah cukup bisa dipakai untuk mengubah hakikat arti yang terkandung didalam amar.

Contoh:

ูŠูŽุงุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุงุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽุขู…ูŽู†ููˆุงู’ุฅูุฐูŽุงุชูŽุฏูŽุงูŠูŽู†ุชูู…ุจูุฏูŽูŠู’ู†ูุฅูู„ูŽู‰ุฃูŽุฌูŽู„ูู…ู‘ูุณูŽู…ู‘ู‹ู‰ููŽุงูƒู’ุชูุจููˆู‡ููˆูŽู„ู’ูŠูŽูƒู’ุชูุจุจู‘ูŽูŠู’ู†ูŽูƒูู…ู’ูƒูŽุงุชูุจูŒุจูุงู„ู’ุนูŽุฏู’ู„ู -ูขูจูข

Artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu melakukan utang piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar.” (al-Baqarah: 282)

Pada ayat ini ditemukan adanya kasus tentang hukum pencatatan dan persaksian dalam kasus utang-piutang, yang tertuang pada kalimat ููŽุงูƒู’ุชูุจููˆู‡ูarti yang terkandung dalam kalimat ini diperselisihkan para ahli ushul, yakmi :

  • Kelompok al-Dhahiry berpendapat bahwa hukum yang terdapat didalam perintah pencatatan dan penulisan dalam hutang-piutang adalah wajib, sebab bentuk amar menunjukkan wajib. Dan arti ini tidak bisa menyimpang dari arti amar secara lahiriyah, kecuali ada nash atau ijmaโ€™ yang mengalihkannya dari wajib.
  • Jumhur ulama berpendapat bahwa hukum yang dapat diambil dari kata amar adalah nadb, sebab kebanyakan masyarakat muslim dalam melakukan transaksi kontrak jual-beli yang dilakukan dengan tidak kontan, tidak dilakukan oleh mereka dengan percatatan dan penulisan, sehingga ijmaโ€™ kaum muslimin tersebut dianggap sebagai indikasi (qarinah) yang menunjukkan bahwa amar tersebut tidak menunjukkan hukum wajib.

Dengan demikian, untuk menentukan sesuatu yang dapat dianggap sebagai qarinah, para ahli berbeda-beda, sehingga berakibat pada terjadinya perbedaan dalam penetapan hukum, misalnya problem muthโ€™ah bagi wanita yang diceraikan suami dalam surat al-Baqarah: 236 yaitu :

ูˆูŽู…ูŽุชู‘ูุนููˆู‡ูู†ู‘ูŽุนูŽู„ูŽู‰ุงู„ู’ู…ููˆุณูุนูู‚ูŽุฏูŽุฑูู‡ู -ูขูฃูฆ

Artinya:

“Dan hendaklah kamu beri mereka mutah, bagi yang mampu menurut kemampuannya.”

Dalam menanggapi kasus ayat ini, kelompok imam syafiโ€™I, hanafiyah, hanabilah menganggap bahwa pemberian muthโ€™ah kepada wanita telah diceraikan suami adalah wajib, berdasarkan pada kemutlakan perintah. Begitu juga Ibn โ€˜Umar (dari keempat sahabat), saโ€™id bin Musayyab dan imam Mujahid (dari kelompok Tabiโ€™in)

Baca juga :ย Pengertian Bhineka Tunggal Ika Dalam Buku Sotasoma dan Asal Usulnya

Macam-macam Amr

Imam Ar-Razi berkata didalam kitabnya Al-Mahsul, bahwa ahli ushul telah sepakat menetapkan bahwa bentuk ifโ€™al dipergunakan dalam 15 macam makna sesuai dengan qarinah yang mempengaruhinya.

Ijab (wajib). Contoh firmannya:

ูˆูŽุฃูŽู‚ููŠู…ููˆุงู’ ุงู„ุตู‘ูŽู„ุงูŽุฉูŽ ูˆูŽุขุชููˆุงู’ ุงู„ุฒู‘ูŽูƒูŽุงุฉูŽ ูˆูŽุงุฑู’ูƒูŽุนููˆุงู’ ู…ูŽุนูŽ ุงู„ุฑู‘ูŽุงูƒูุนููŠู†ูŽ -ูคูฃ

Artinya:

“Dan laksanakanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang yang rukuk.” (al-Baqarah: 43)

Untuk menunjukkan nadb (mandub = sunah). Contoh:

ููŽูƒูŽุงุชูุจููˆู‡ูู…ู’ ุฅูู†ู’ ุนูŽู„ูู…ู’ุชูู…ู’ ูููŠู‡ูู…ู’ ุฎูŽูŠู’ุฑุงู‹ -ูฃูฃ

Artinya:

“Dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang Dikaruniakan-Nya kepadamu.” (an-Nur: 33)

Takdib (adab). Contoh :

ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ู…ูŽุณู’ุนููˆู’ุฏู ุนูู‚ู’ุจูŽุฉูŽ ุจูู†ู’ ุนูŽู…ู’ุฑููˆ ุงู„ุฃูŽู†ู’ุตูŽุงุฑููŠ ุงู„ู’ุจูŽุฏู’ุฑููŠ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‡ ุนูŽู†ู’ู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ : ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู’ู„ู ุงู„ู„ู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ : ุฅูู†ู‘ูŽ ู…ูู…ู‘ูŽุง ุฃูŽุฏู’ุฑูŽูƒูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ู…ูู†ู’ ูƒูŽู„ุงูŽู…ู ุงู„ู†ู‘ูุจููˆู‘ูŽุฉู ุงู„ุฃููˆู’ู„ูŽู‰ุŒ ุฅูุฐูŽุง ู„ูŽู…ู’ ุชูŽุณู’ุชูŽุญู ููŽุงุตู’ู†ูŽุนู’ ู…ูŽุง ุดูุฆู’ุชูŽ
[ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ ]

Artinya :

Dari Abu Masโ€™ud Uqbah bin Amr Al Anshary Al Badry radhiallahuanhu dia berkata: Rasulullah shollallohu โ€˜alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya ungkapan yang telah dikenal orang-orang dari ucapan nabi-nabi terdahulu adalah: Jika engkau tidak malu perbuatlah apa yang engkau suka.” (Riwayat Bukhori)

Untuk menunjuki. Misalnya firman Allah:

ูˆูŽุงุณู’ุชูŽุดู’ู‡ูุฏููˆุงู’ ุดูŽู‡ููŠุฏูŽูŠู’ู†ู ู…ู† ุฑู‘ูุฌูŽุงู„ููƒูู…ู’ ููŽุฅูู† ู„ู‘ูŽู…ู’ ูŠูŽูƒููˆู†ูŽุง ุฑูŽุฌูู„ูŽูŠู’ู†ู ููŽุฑูŽุฌูู„ูŒ -ูขูจูข

Artinya:

“Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi laki- laki di antara kamu.” (al-Baqarah: 282)

Ibadah (kebolehan). Contoh dalamย  (al-Baqarah :87) :

ูˆูŽูƒูู„ููˆุงู’ูˆูŽุงุดู’ุฑูŽุจููˆุงู’ุญูŽุชู‘ูŽู‰ูŠูŽุชูŽุจูŽูŠู‘ูŽู†ูŽู„ูŽูƒูู…ูุงู„ู’ุฎูŽูŠู’ุทูุงู„ุฃูŽุจู’ูŠูŽุถูู…ูู†ูŽุงู„ู’ุฎูŽูŠู’ุทูุงู„ุฃูŽุณู’ูˆูŽุฏูู…ูู†ูŽุงู„ู’ููŽุฌู’ุฑู -ูกูจูง

Artinya:

“Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar.” (al-Baqarah :87)

Tahdid (ancaman), contoh :

ุงุนู’ู…ูŽู„ููˆุงู…ูŽุงุดูุฆู’ุชูู…ู’ุฅูู†ู‘ูŽู‡ูุจูู…ูŽุงุชูŽุนู’ู…ูŽู„ููˆู†ูŽุจูŽุตููŠุฑูŒ -ูคู 

Artinya:

“Kerjakanlah apa yang kamu kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Fushilat: 40)

Inzhar (peringatan), contoh firman Allah:

ูˆูŽุฌูŽุนูŽู„ููˆุงู’ู„ูู„ู‘ู‡ูุฃูŽู†ุฏูŽุงุฏุงู‹ู„ู‘ููŠูุถูู„ู‘ููˆุงู’ุนูŽู†ุณูŽุจููŠู„ูู‡ูู‚ูู„ู’ุชูŽู…ูŽุชู‘ูŽุนููˆุงู’ููŽุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุตููŠุฑูŽูƒูู…ู’ุฅูู„ูŽู‰ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑู -ูฃู 

Artinya:

Dan mereka (orang kafir) itu telah menjadikan tandingan bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya Katakanlah (Muhammad), โ€œBersenang-senanglah kamu, karena sesungguhnya tempat kembalimu ke neraka.โ€

Ikram (memuliakan)

ุงุฏู’ุฎูู„ููˆู‡ูŽุงุจูุณูŽู„ุงูŽู…ูุขู…ูู†ููŠู†ูŽ -ูคูฆ

Artinya:

(Allah Berfirman), โ€œMasuklah ke dalamnya dengan sejahtera dan aman.โ€

Taskhir (pehnghinaan)

ูƒููˆู†ููˆุงู’ู‚ูุฑูŽุฏูŽุฉู‹ุฎูŽุงุณูุฆููŠู†ูŽ -ูฆูฅ

Artinya:

“Jadilah kamu kera yang hina!”

Taโ€™jiz (melemahkan)

ูˆูŽุฅูู†ูƒูู†ุชูู…ู’ูููŠุฑูŽูŠู’ุจูู…ู‘ูู…ู‘ูŽุงู†ูŽุฒู‘ูŽู„ู’ู†ูŽุงุนูŽู„ูŽู‰ุนูŽุจู’ุฏูู†ูŽุงููŽุฃู’ุชููˆุงู’ุจูุณููˆุฑูŽุฉูู…ู‘ูู†ู…ู‘ูุซู’ู„ูู‡ููˆูŽุงุฏู’ุนููˆุงู’ุดูู‡ูŽุฏูŽุงุกูƒูู…ู…ู‘ูู†ุฏููˆู†ูุงู„ู„ู‘ู‡ูุฅูู†ู’ูƒูู†ู’ุชูู…ู’ุตูŽุงุฏูู‚ููŠู†ูŽ -ูขูฃ

Artinya:

“Dan jika kamu meragukan (al-Quran) yang Kami Turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.”

Taswiyah (mempersamakan)

ุงุตู’ู„ูŽูˆู’ู‡ูŽุงููŽุงุตู’ุจูุฑููˆุงุฃูŽูˆู’ู„ูŽุงุชูŽุตู’ุจูุฑููˆุงุณูŽูˆูŽุงุก -ูกูฆ

Artinya:

“Baik kamu bersabar atau tidak, sama saja bagimu.”

Tamanni (angan-angan)

Contohnya :

Wahai sang malam!

Wahai kantuk, menghilanglah

Wahai waktu subuh! Berhentilah dahulu

Jangan segera datang

(Syiโ€™ir Ummul Qais)

Doa (berdoa)

ู‚ูŽุงู„ูŽุฑูŽุจู‘ูุงุบู’ููุฑู’ู„ููŠูˆูŽู‡ูŽุจู’ู„ููŠู…ูู„ู’ูƒุงู‹ู„ู‘ูŽุงูŠูŽู†ุจูŽุบููŠู„ูุฃูŽุญูŽุฏูู…ู‘ูู†ู’ุจูŽุนู’ุฏููŠุฅูู†ู‘ูŽูƒูŽุฃูŽู†ุชูŽุงู„ู’ูˆูŽู‡ู‘ูŽุงุจู -ูฃูฅ

Artinya:

Dia berkata, โ€œYa Tuhan-ku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapa pun setelahku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Pemberi.โ€

Ihanah (meremehkan)

ุฐูู‚ู’ุฅูู†ู‘ูŽูƒูŽุฃูŽู†ุชูŽุงู„ู’ุนูŽุฒููŠุฒูุงู„ู’ูƒูŽุฑููŠู…ู -ูคูฉ

Artinya:

โ€œRasakanlah, sesungguhnya kamu benar-benar orang yang perkasa lagi mulia.โ€

Imtinan

ููŽูƒูู„ููˆุงู’ู…ูู…ู‘ูŽุงุฑูŽุฒูŽู‚ูŽูƒูู…ูุงู„ู„ู‘ู‡ูุญูŽู„ุงู„ุงู‹ุทูŽูŠู‘ูุจุงู‹ูˆูŽุงุดู’ูƒูุฑููˆุงู’ู†ูุนู’ู…ูŽุชูŽุงู„ู„ู‘ู‡ูุฅูู†ูƒูู†ุชูู…ู’ุฅููŠู‘ูŽุงู‡ูุชูŽุนู’ุจูุฏููˆู†ูŽ -ูกูกูค

Artinya:

“Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah Diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya.”

Kaidah-kaidah Amar

Kaidah-kaidah Amr yaitu ketentuan-ketentuan yang dipakai para mujtahid dalam mengistimbatkan hukum. Ulamaโ€™ Ushul merumuskan kaidah-kaidah Amr dalam empat bentuk, yaitu :

  • Perintah setelah larangan menunjukkan kepada kebolehan.

Yang dimaksud kaidah diatas yaitu apabila ada perbuatan-perbuatan yang sebelumnya dilarang, lalu datang perintah mengerjakan, maka perintah tersebut bukan perintah wajib tetapi hanya bersifat membolehkan.

  • Pada dasarnya perintah itu menghendaki segera dilaksanakan.

Perintah yang adakalanya ditentukan waktunya dan adakalanya tidak. Jika suatu perintah disertai waktu tertentu, misalnya tentang haji, seperti dalam surat Al-Hajj 27 :

ูˆุฃุฐู†ููŠุงู„ู†ุงุณุจุงู„ุญุฌูŠุฃุชูˆูƒุฑุฌุงู„ุงูˆุนู„ู‰ูƒู„ุถุงู…ุฑูŠุฃุชูŠู†ู…ู†ูƒู„ูุฌุนู…ูŠู‚ -ูขูง

Artinya : โ€œDan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan hajiโ€.

Jumhur ulamaโ€™ sepakat bahwa perintah mengerjakan sesuatu yang berhubungan dengan waktu harus dikerjakan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan dan tidak boleh diluar waktu. Bila diluar waktu, tanpa sebab yang dibenarkan oleh syaraโ€™ maka akan berdosa.

  • Pada dasarnya perintah itu tidak menghendaki pengulangan (berkali-kali mengerjakan perintah).

Contohnya perintah menunaikan haji, yaitu hanya satu kali seumur hidup.Maka seandainya ada orang yang berpendapat perintah haji tersebut dimaksudkan pengulangan (berkali-kali), maka orang tersebut harus mampu menunjukkan qarinah atau kalimat yang menunjukkan kepada pengulangan.

Menurut Ulamaโ€™ Qarinah dikelompokkan menjadi tiga :
โ€ข Perintah itu dikaitkan dengan syarat, seperti wajib mandi junub.
โ€ข Perintah itu dikaitkan dengan illat.
โ€ข Perintah itu dikaitkan dengan sifat atau keadaan yang berlaku sebagai illat, seperti kewajiban shalat setiap kali masuk waktu.

Kemudian dari penguraian tersebut jelas bahwa berulangnya kewajibannya itu dihubungkan dengan berulangnya sebab.Dalam kaitannya dengan masalah ini Ulamaโ€™ menetapkan kaidah.

  • Memerintahkan mengerjakan sesuatu berarti memerintahkan pula segala wasilahnya.Kaidah ini menjelaskan bahwa perbuatan yang diperintahkan itu tidak bisa terwujud tanpa disertai dengan sesuatu yang lain yang dapat mewujudkan perbuatan yang diperintah itu, misalnya kewajiban melaksanakan shalat. Shalat ini tidak dapat dikerjakan tanpa suci terlebih dahulu. Karena itu, perintah shalat berarti juga perintah bersuci.

Baca juga :ย Pengertian Hak Guna Usaha (HGU), Hak Pakai, Peraturan dan Syarat-syaratnya

Dilalah dan tuntutan Amr

Beberapa ahli telah mendefinisikan dilalah dan tuntutan dalam AMR yakni :

Dr. Zakaria Al- Bardisy

Menunjukan Wajib

โ€œJumhur sepakat menyatakan bahwa amar menunjukkan tidak wajibnya suatu tuntutan yang secara mutlak selama tidak ada qarinah (hubungan sesuatu) dari ketentuan amar tersebutโ€

Juga berdasarkan kaidah:

โ€œarti yang pokok dalam amar ialah menunjukkan wajib (wajibnya perbuatan yang diperintahkannya).

Contoh, firman Allah:

ู‚ูŽุงู„ูŽ ู…ูŽุง ู…ูŽู†ูŽุนูŽูƒูŽ ุฃูŽู„ุงู‘ูŽ ุชูŽุณู’ุฌูุฏูŽ ุฅูุฐู’ ุฃูŽู…ูŽุฑู’ุชููƒูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽู†ูŽุงู’ ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ ู…ู‘ูู†ู’ู‡ู ุฎูŽู„ูŽู‚ู’ุชูŽู†ููŠ ู…ูู† ู†ู‘ูŽุงุฑู ูˆูŽุฎูŽู„ูŽู‚ู’ุชูŽู‡ู ู…ูู† ุทููŠู†ู -ูกูข

Artinya:

(Allah) Berfirman, โ€œApakah yang menghalangimu (sehingga) kamu tidak bersujud (kepada Adam) ketika Aku Menyuruhmu?โ€ (Iblis) menjawab, โ€œAku lebih baik daripada dia. Engkau Ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau Ciptakan dari tanah.โ€

Ayat pertama bukan ditunjukkan untuk bertanya, tetapi merupakan pencelaan terhadap iblis karena enggan bersujud kepada Adam tanpa alasan, ketika iblis diperintah sujud.Bentuk perintah amr dalam ayat kedua yaitu, perkataan sujudlah (usjuduu) dengan tidak disertai qarianah menunjukkan kemestian/keharusan.Kalau tidak demikian, Allah tidak mencela iblis karena kedurhakaannya itu.

ุฃูŽู†ูŽู‘ุฑูŽุณููˆู„ูŽุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูุตูŽู„ู‰ุงู„ู„ู‡ูุนูŽู„ูŠู’ู‡ููˆูŽุณูŽู„ูŽู‘ู…ูŽุŒู‚ูŽุงู„ูŽ : ู„ูŽูˆู’ู„ูŽุงุฃูŽู†ู’ุฃูŽุดูู‚ูŽู‘ุนูŽู„ูŽู‰ุฃูู…ูŽู‘ุชููŠู„ูŽุฃูŽู…ูŽุฑู’ุชูู‡ูู…ู’ุจูุงู„ุณูู‘ูˆูŽุงูƒุนูู†ู’ุฏูŽูƒูู„ู‘ูุตูŽู„ูŽุฉู

Artinya:

Bahwa rasulullah SAW telah bersabda: Seandainya tidak akan memberatkan bagi umatku, tentulah aku perintahkan mereka bersiwak pada tiap-tiap hendak shalat. (Al-hadits)

Hadits tersebut diatas mengandung pengertian bahwa karena adanya masyaqah (kesulitan), maka tidak wajib bersiwak.Padahal ulama telah menyepakati bersama bahwa siwak tetap disunahkan (nadab), namun nadab disini bukanlah yang pokok, tetapi hanyalah karena adanya qarinah, yaitu masyaqah.

Perlu diketahui bahwa suatu perintah yang tidak ada qarinahnya dengan sesuatu hal yang lain menunjukkan arti kemestian (wajib).

Menunjukkan Anjuran (nadab)

โ€œArti yang pokok dalam amr/suruhan itu ialah menunukkan anjuran (nadab).โ€

Suruhan itu memang adakalanya untuk suruhan (wajib), seperti: shalat lima waktu, adakalanya untuk anjuran (nadab), seperti shalat dhuha.

Diantara kemestian dan anjuran yang paling diyakini adalah anjuran.

Sehingga dapat disimpulkan antara amr tetap mengandung arti wajib, kecuali apabila amr tadi sudah tidak mutlak lagi. Atau terdapat qarinah yang dapat mengubah ketentuan tersebut, sehingga amr itu berubah pula, yakni tidak menunjukkan wajib, tetapi menjadi bentuk yang menunjukkan hukum sunah atau mubah dan sebagainya sesuai dengan qarinah yang mempengaruhinya.

Semoga artikel tentang Pengertian AMR, Sighat, Macam dan Kaidahnya ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Untuk mendukung Ilmudefinisi.com berkembang dan menjadi lebih maju, simaklah terus artikel pendidikan setiap harinya. ๐Ÿ™‚ Sampai jumpa !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *