Pengertian Pernikahan Dalam Islam, Rukun, Syarat dan Tata Caranya !

Pengertian Pernikahan Menurut Islam

Banyak sekali pertanyaan seputar pernikahan, syarat, rukun serta bagaimana tata caranya. Tak luput juga pertanyaan tentang apakah hubungan suami istri tanpa ada ikatan perkawinan yang sah menurut agama adalah pengertian dari pernikahan ? Apakah tinggal satu rumah sebelum pernikahan berdosa dan masih banyak lagi pertanyaan lainnya. Untuk itu kami secara khusus akan membahas tentang pengertian pernikahan dalam islam, rukun, syarat serta tata caranya.

Pengertian Pernikahan Dalam Islam

Pengertian Pernikahan Menurut Islam

Pernikahan atau nikah artinya adalah terkumpul dan menyatu.

Menurut istilah lain juga dapat berarti Ijab Qobul (akad nikah) yang mengharuskan perhubungan antara sepasang manusia yang diucapkan oleh kata-kata yang ditujukan untuk melanjutkan ke pernikahan, sesusai peraturan yang diwajibkan oleh Islam.

Kata zawaj digunakan dalam al-Quran artinya adalah pasangan yang dalam penggunaannya pula juga dapat diartikan sebagai pernikahan, Allah s.w.t. menjadikan manusia itu saling berpasangan, menghalalkan pernikahan dan mengharamkan zina.

Pengertian menurut etimologi

Definisi pernikahan berdasarkan Al-Qur’an dan Hadist berasal dari kata an-nikh dan azziwaj yang memiliki arti melalui, menginjak, berjalan di atas, menaiki, dan bersenggema atau bersetubuh.

Di sisi lain nikah juga berasal dari istilah Adh-dhammu, yang memiliki arti merangkum, menyatukan dan mengumpulkan serta sikap yang ramah. adapun pernikahan yang berasalh dari kata aljam’u yang berarti menghimpun atau mengumpulkan.

Pernikahan dalam istilah ilmu fiqih disebut ( زواج ), ( نكاح ) keduanya berasal dari bahasa arab. Nikah dalam bahasa arab mempunyai dua arti yaitu ( الوطء والضم ) baik arti secara hakiki ( الضم ) yakni menindih atau berhimpit serta arti dalam kiasan ( الوطء ) yakni perjanjian atau bersetubuh.

Pengertian Pernikahan Menurut Para Ahli

Pengertian menurut pandangan Ulama diantaranya adalah :

Ulama Hanafiyah

Definisi pernikahan menurut Ulama Hanafiyah adalah sebagai suatu akad yang membuat pernikahan menjadikan seorang laki-laki dapat memiliki dan menggunakan perempuan termasuk seluruh anggota badannya untuk mendapatkan sebuah kepuasan atau kenikmatan.

Ulama Syafi’iyah

Menurut Ulama Syafi’iyah pengertian pernikahan adalah suatu akad dengan menggunakan lafal حُ حاكَكنِن , atau كَ ز كَ وا حُ ج , yang memiliki arti pernikahan menyebabkan pasangan mendapatkan kesenangan.

Ulama Malikiyah

Selanjutnya Ulama Malikiyah mendefinisikan bahwa pernikahan adalah suatu akad atau perjanjian yang dilakukan untuk mendapatkan kepuasan tanpa adanya harga yang dibayar.

Ulama Hanabilah

Menurut Ulama Hanabilah definisi pernikahan adalah akad dengan menggunakan lafal انِ نْ ن كَ كا حُ ح atau كَ نْ نِ و نْ حُ ج yang artinya pernikahan membuat laki-laki dan perempuan dapat memiliki kepuasan satu sama lain.

Saleh Al Utsaimin

Kemudian Saleh Al Utsaimin mengartikan bahwa nikah adalah pertalian hubungan antara laki-laki dan perempuan dengan maksud agar masing-masing dapat menikmati yang lain dan untuk membentuk keluaga yang saleh dan membangun masyarakat yang bersih.

Muhammad Abu Zahrah

Muhammad Abu Zahrah di dalam kitabnya al-ahwal al-syakhsiyyah, menjelaskan bahwa nikah adalah akad yang berakibat pasangan laki-laki dan wanita menjadi halal dalam melakukan bersenggema serta adanya hak dan kewajiban diantara keduanya.

Dasar Hukum Pernikahan

Dasar Hukum Pernikahan

Pernikahan memiliki dasar hukum yang menjadikannya disarankan untuk dilakukan oleh umat islam. Berikut beberapa dasar hukum pernikahan berdasarkan Al Qur’an dan Hadits :

Q.S. An-Nisaa’ : (1)

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (Q.S. An-Nisaa’ : 1).

Q.S. An-Nuur : (32)

”Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu,dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha Luas (pemberian- Nya) lagi Maha mengetahui” .(Q.S. An-Nuur : 32)

Q.S. Ar-Ruum : (21)

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan- Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. (Q.S. Ar-Ruum : 21).

”Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang telah memiliki kemampuan untuk menikah, hendaklah dia menikah; karena menikah lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Adapun bagi siapa saja yang belum mampu menikah, hendaklah ia berpuasa; karena berpuasa itu merupakan peredam (syahwat)nya”.

Baca juga : Pengertian Seni Tari Menurut Para Ahli

Hukum Pernikahan

Terdapat beberapa hukum pernikahan menurut islam diantaranya adalah :

Wajib

Hukum pernikahan dianggap wajib jika orang tersebut memiliki kemampuan untuk meinkah dan jika tidak menikah ia bisa tergelincir perbuatan zina (baca zina dalam islam)

Sunnah

Hukum pernikahan yang kedua adalah sunah. Pernikahan disunahkan bagi seseorang yang memiliki kemampuan untuk menikah namun jika tidak menikah ia tidak akan tergelincir perbuatan zina,

Makruh

Hukum yang selanjutnya adalah makruh. jika ia memiliki kemampuan untuk menikah dan mampu menahan diri dari zina tapi ia tidak memiliki keinginan yang kuat untuk menikah. Ditakutkan akan menimbulkan mudarat salah satunya akan menelantarkan istri dan anaknya.

Mubah

Hukum pernikahan dianggap mubah apabila seseorang hanya menikah meskipun ia memiliki kemampuan untuk menikah dan mampu menghindarkan diri dari zina, ia hanya menikah untuk kesenangan semata.

Haram

Selanjutnya pernikahan dihukumi haram jika seseorang tidak memiliki kemampuan untuk menikah dan dikhawatirkan jika menikah ia akan menelantarkan istrinya atau tidak dapat memenuhi kewajiban suami terhadap istri dan sebaliknya istri tidak dapat memenuhi kewajiban istri terhadap suaminya. Pernikahan juga haram hukumnya apabila menikahi mahram atau pernikahan sedarah.

Rukun dan Syarat Pernikahan

Rukun dan Syarat Pernikahan

Pernikahan dalam islam memiliki beberapa syarat dan rukun yang harus dipenuhi agar pernikahan tersebut sah hukumnya di mata agama baik menikah secara resmi maupun nikah siri. Berikut ini adalah syarat-syarat akad nikah dan rukun yang harus dipenuhi dalam sebuah pernikahan misalnya nikah tanpa wali maupun ijab kabul hukumnya tidak sah.

Rukun Nikah

Rukun pernikahan adalah sesuatu yang harus ada dalam pelaksanaan pernikahan, mencakup :

  • Calon mempelai laki-laki dan perempuan
  • Wali dari pihak mempelai perempuan
  • Dua orang saksi
  • Ijab kabul yang sighat nikah yang di ucapkan oleh wali pihak perempuan dan dijawab oleh calon mempelai laki-laki.

Syarat Nikah

Adapun syarat dari masing-masing rukun tersebut adalah

1. Calon suami dengan syarat-syarat berikut ini

  • Beragama Islam
  • Berjenis kelamin Laki-laki
  • Ada orangnya atau jelas identitasnya
  • Setuju untuk menikah
  • Tidak memiliki halangan untuk menikah

2. Calon istri dengan syarat-syarat

  • Beragama Islam ( ada yang menyebutkan mempelai wanita boleh beraga nasrani maupun yahudi)
  • Berjenis kelamin Perempuan
  • Ada orangnya atau jelas identitasnya
  • Setuju untuk menikah
  • Tidak terhalang untuk menikah

3. Wali

Syarat bagi seorang wali nikah diantaranya adalah sebagai berikut

  • Laki-laki
  • Dewasa
  • Mempunyai hak perwalian atas mempelai wanita
  • Adil
  • Beragama Islam
  • Berakal Sehat
  • Tidak sedang berihram haji atau umrah

4. Saksi

Saksi nikah dalam sebuah perkawinan harus memenuhi beberapa syarat-syarat seperti :

  • Minimal terdiri dari dua orang laki-laki
  • Hadir dalam proses ijab qabul
  • Mengerti maksud akad nikah
  • Beragama islam
  • Adil
  • Dewasa

5. Ijab qobul

Ijab qobul juga harus memenuhi syarat seperti :

  • Dilakukan dengan bahasa yang mudah dimengerti kedua belah pihak baik oleh pelaku akad dan penerima aqad dan saksi.
  • Ucapan akad nikah juga haruslah jelas dan dapat didengar oleh para saksi.
  • Fikih pernikahan atau munakahat adalah salah satu ilmu yang mesti dipelajari dan diketahui umat islam pada umumnya agar pernikahan dapat berjalan sesuai dengan tuntunan syariat agama dan menghindarkan hal-hal yang dapat membatalkan pernikahan.

Baca juga : Pengertian Ekstradisi, Azaz-azaz , Syarat, serta Perjanjian Ekstradisi

Demikian penjelasan tentang pengertian pernikahan, hukum dan syaratnya. Semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi para pembaca 🙂 Simak terus Ilmudefinisi.com untuk informasi penting lainya 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *